2002
“Kuliah di IKIP saja tidak apa-apa,
nanti kalau sudah menikah dan punya anak jadinya enak karena saat anaknya
libur, kamu juga bisa ikut libur. Jadi guru juga kan jam kerjanya tidak seperti
orang kantoran, jadi bisa tetap mengatur rumah tangga dengan baik.”
Kata-kata
itu masih dapat saya ingat dengan jelas, keluar dari mulut ibu saya tersayang
yang berharap nanti cucunya bisa dirawat dengan baik karena menurut beliau,
bila saya jadi guru, waktu kerjanya tidak sepadat pegawai lain di kantor jadi
bisa tetap mengurus anak dan rumah tangga. Meskipun kemudian akhirnya pekerjaan
menjadi guru lah yang untuk pertama kalinya membuat saya diijinkan tinggal di
“rumah” lain, lalu yang awalnya bisa pulang satu kali dalam seminggu di akhir
pekan, kadang menjadi satu kali dalam dua minggu, bahkan hingga hanya satu kali
dalam satu bulan. Ditundanya kepulangan dengan alasan-alasan yang bervariasi,
baik karena alasan letih atau karena ada pekerjaan penting di akhir pekan itu.
Tapi hal ini ternyata membuat hubungan saya dengan keluarga semakin hangat,
karena rasa kangen yang tertahan membuat kami jadi semakin saling menghargai
dan saling berusaha memberi kebahagiaan ketika bertemu. Sedikit ataupun banyak,
perasaan ingin membahagiakan dan merasa lebih bersyukur ini acapkali datang pada
diri saya karena saya semakin banyak belajar untuk menghargai apa yang saya
miliki, serta berjuang mencapai hal-hal yang belum saya miliki, dari segala
peristiwa yang mewarnai hari-hari saya sejak saya bergabung sebagai civitas SMP
Labschool Kebayoran di tahun 2007. Baik itu hal-hal yang terkait dengan
kualitas pribadi saya, kualitas kerja saya, hubungan saya dengan diri saya
sendiri dan hubungan saya dengan orang lain. Di tempat ini pula saya semakin banyak
belajar tentang objektivitas, belajar tentang memaafkan, belajar mengakui
kesalahan, belajar mengakui kelebihan
orang lain dan semakin yakin bahwa apa yang kita tanam maka itulah yang kita
tuai, dan hebatnya...anak-anak sayalah yang mengajarkan semua itu.
Desember 2007
...
“OK, bisa
perhatikan dulu ke depan, tugas yang saya berikan minggu lalu boleh
dikumpulkan, ketua kelas mungkin bisa bantu saya mengumpulkan tugas tiap
kelompok”
(semua asyik dengan aktivitasnya masing-masing)
“nak, kamu sudah sudah mengerjakan?” saya
bertanya pada satu anak ,dan dia
menggeleng; “kamu?” tanya saya pada
anak lainnya, jawabannya pun sama
(siswa yang lainnya tetap asyik dengan dengan
aktivitasnya masing-masing)
Saya memutuskan bertanya satu kali lagi, “halo, sudah selesai belum kelas ini
tugasnya?”
Banyak yang menjawab bersamaan “beluuum buu” , “yaaa males
bu, banyak tugas lain yang lebih penting”, “udah bu...tapiiii dalam mimpi
hahahaha”
(mereka tetap meringkuk di atas karpet, meniup
suling, dan tidak mengacuhkan keberadaan saya)
...
Sungguh rasanya sangat sulit untuk bisa tersenyum
saat itu, namun saya berusaha untuk tetap tersenyum karena saya berharap saya
bisa mengontrol 1 kelas ini seperti halnya 4 kelas lain yang saat itu menjadi
tanggung jawab saya. Saya berusaha bicara satu kali lagi, “saya kecewa karena
kalian bersikap seperti ini, saya tidak tahu apakah kalian melakukan ini karena
saya guru baru? Atau memang kalian mengalami kesulitan? tapi sepertinya untuk
saat ini kalian tidak menginginkan saya untuk berada di kelas ini, dan saya
tidak akan memaksa, jadi saya yang akan keluar dari sini”. Saat itu sangatlah
membingungkan untuk menentukan sikap, karena saya tahu bahwa bukan pilihan yang
tepat untuk meninggalkan kelas, namun ego saya saat itu, saya tidak mau tampak
lemah dan tidak berdaya di hadapan mereka, dan saya memilih untuk keluar dari
kelas itu karena saya tidak mau genangan air mata saya sampai mengalir di
hadapan mereka.
Sempat gelisah karena memikirkan dengan siapa ya
saya baiknya menceritakan masalah ini karena rasanya kok malu kalau dianggap
tidak becus mengelola kelas, bahkan sempat berkecamuk di pikiran keinginan
untuk berhenti saja mengajar disini karena di kelas ini saya sering merasa
diabaikan, tapi keinginan ini redam dengan sendirinya ketika sudah mengajar di
empat kelas lainnya, meskipun adakalanya perut mendadak mual kalau sudah
jadwalnya masuk kelas ini lagi.
November 2008
...
Assalamualaikum Wr Wb
Ibu yoan, terima kasih atas
segala bimbingan ibu yang telah ibu berikan untuk saya dan segala kebaikan ibu
ke saya.
Bu yoan itu guru pualing sabaar
bangeeett yang pernah saya kenal, bener bu ini serius, awalnya sih saya nggak
kepikiran kalo ibu ternyata baik dan sabar banget, malahan menurut saya dulu
ibu biasa aja, ngajar juga suka saya bandingin sama bu okta dan enakan bu okta
pertamanya (hehe maaf ya bu) tapi lama-lama ibu enak juga kok.
Dulu waktu pertama ibu ngajar di
labsky, saya pertama liat ibu dan diajar ibu di kelas 8, saya cuma berpikir “ah
siapa sih nih guru, biasa aja ah pelajarannya, malah enakan guru yang sebelumnya
ngajar kelas kita”. Tapi waktu saya ngeliat ibu bisa tetep senyum pas anak-anak
di kelas saya berisik dan nggak peduliin ibu sama sekali, saya sempet bilang
dalam hati “ya ampun ibunya sabar banget ya?”tapi saya masih biasa aja sih saat
itu, saya juga belum terlalu kenal banget sama ibu.
Tapiiii saya baru bener bener
kenal ibu pas saya jadi panitia Labs Fresh School Day. Ternyata ibu beneran
sabar bangeeeett, serius bu, ibu bener-bener banyak ngebantu saya di acara itu.
Kadang saya suka ngeliatin ibu terus mikir kalo dulu tuh saya sempet ngeremehin
ibu, nganggep ibu nggak penting, tapi ternyata ibu hebat banget, saya nggak tau
apa jadinya acara itu kalo nggak ada ibu yang selalu ngingetin saya untuk
ngelakuin ini dan itu. Acara itu bener bener jadi acara yang berkesan buat
saya, saya kagum sama ibu, ibu salah satu guru favorit saya. Apalagi itu acara
yang bisa dibilang salah satu acara - acara terakhir di kepengurusan OSIS saya,
jadi saya seneng banget karena acaranya berjalan lancar. Di Labspart juga ibu
bantuin panitia OSIS banget dengan nasehat-nasehat ibu, kadang ibu galak dan
marah, tapi itu karena memang kita sudah melakukan kesalahan.
Bu... tetep sabar ya sama saya,
sama angkatan saya, tetep inget kita ya kalau nanti kita udah lulus, tetep jadi
bu yoan yang sabar ya bu sampai kapanpun J
With
love
( ibu
tau nggak siapa saya? Ayooo tebak saya siapa? Saya...ehm
aaahh
nggak usah ah, saya nggak usah kasi tau...rahasia aja. Biar ibu tebak aja.
Sekali lagi makasi ya bu. Happy
Teacher’s Day buuu )
---
Air mata saya mengalir saat saya membaca surat di
atas, itu salah satu surat yang saya dapat ketika peringatan hari Teacher’s Day
yang dilakukan dengan melibatkan seluruh siswa untuk mengirimkan surat pada
guru yang menjadi favorit mereka.
Awalnya hati saya sempat mencelos ketika mendengar
akan ada kegiatan ini (kegiatan ini rahasia dan tidak ada guru yang tahu, namun
karena penggagasnya adalah teman satu tim saya, maka saya pun dilibatkan, jadi
hanya kami berdua dan pimpinan serta POMG dan anak- anak tentunya, yang tahu
akan ada kegiatan ini). Saya sempat merasa agak melankolis untuk beberapa saat
karena saya berpikir, ah paling saya tidak akan dapat surat dari siapa-siapa,
rasanya belum ada siswa yang menyukai saya apalagi menjadikan saya sebagai guru
favoritnya, tapi kan malu juga ya kalau tidak ada (entah kenapa perasaan ini
muncul begitu saja). Tapi akhirnya saya mulai bisa mengontrol perasaan karena
saya sudah bisa berpikir realistis, saya kan guru baru, jadi wajarlah kalau
tidak dapat, bahkan mungkin juga ada teman lain yang sudah kerja lama dan juga
tidak dapat surat dari anak-anak.
Ketika pembagian amplop saya jujur saja agak terkejut
karena ternyata saya dapat juga amplop coklat itu, awalnya saya kira mungkin
semua guru dapat sekalipun isinya kosong. Tapi ternyata saat saya intip, di dalam
amplop coklat itu ternyata ada beberapa surat untuk saya, dan kutipan surat di
atas adalah salah satunya, salah satu yang paling membekas di hati saya di
antara surat lain dan berbagai peristiwa lain yang sempat menjadi bagian dari
hari-hari saya dan meninggalkan jejak kakinya begitu dalam di hati saya.
November
2008, hampir satu tahun setelah saya pernah merasa diabaikan oleh anak-anak ini,
tidak dipedulikan, merasa mungkin tidak akan bisa menjadi guru yang patut
diteladani, namun anak – anak ini jugalah yang menyatukan kembali serpihan hati
saya, satu anak telah membuka mata, pikiran, dan hati saya dengan mengajarkan
saya untuk semakin banyak belajar tentang bagaimana belajar menilai orang lain secara
objektif, belajar tentang memaafkan, belajar mengakui kesalahan, belajar mengakui kelebihan orang lain meski
sebelumnya pernah memandangnya sebelah mata, dan ini membuat saya semakin memaknai
bahwa apa yang kita tanam maka itulah yang kita tuai. Ada satu siswi yang sempat
saya duga dialah yang menuliskan surat tersebut, tapi saya tidak berhasil
menemukan sinyal apapun baik dari dia maupun siswa lainnya yang menunjukkan kemungkinan
ia adalah penulisnya, bertanya pun tidak enak ah rasanya.
Hati
saya membuncah membaca kalimat demi kalimat dari semua anak yang memberikan
suratnya untuk saya, hati saya terenyuh mengingat kejadian satu tahun lampau
ketika mereka tidak peduli pada keberadaan saya. Saat itu pula saya menangis
(lagi) karena saya bahagia bisa menjadi sosok yang berarti untuk orang lain meskipun
sampai saat ini saya tidak pernah benar-benar mengetahui siapa ananda yang
menuliskan rangkaian kalimat indah yang telah meneguhkan hati saya untuk tetap
berada disini hingga saat ini, terima kasih banyak ya nak, suratmu dan
teman-teman masih saya simpan dan saya berharap suatu waktu kamu pernah tahu
bahwa kamu telah meninggalkan jejak kaki yang begitu dalam di hati saya.
(Kebayoran, November 2011)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar