Senin, 13 Oktober 2014

JEJAK KAKI YANG TERTINGGAL (Jejak Jejak yang Indah)




2002
“Kuliah di IKIP saja tidak apa-apa, nanti kalau sudah menikah dan punya anak jadinya enak karena saat anaknya libur, kamu juga bisa ikut libur. Jadi guru juga kan jam kerjanya tidak seperti orang kantoran, jadi bisa tetap mengatur rumah tangga dengan baik.”
Kata-kata itu masih dapat saya ingat dengan jelas, keluar dari mulut ibu saya tersayang yang berharap nanti cucunya bisa dirawat dengan baik karena menurut beliau, bila saya jadi guru, waktu kerjanya tidak sepadat pegawai lain di kantor jadi bisa tetap mengurus anak dan rumah tangga. Meskipun kemudian akhirnya pekerjaan menjadi guru lah yang untuk pertama kalinya membuat saya diijinkan tinggal di “rumah” lain, lalu yang awalnya bisa pulang satu kali dalam seminggu di akhir pekan, kadang menjadi satu kali dalam dua minggu, bahkan hingga hanya satu kali dalam satu bulan. Ditundanya kepulangan dengan alasan-alasan yang bervariasi, baik karena alasan letih atau karena ada pekerjaan penting di akhir pekan itu. Tapi hal ini ternyata membuat hubungan saya dengan keluarga semakin hangat, karena rasa kangen yang tertahan membuat kami jadi semakin saling menghargai dan saling berusaha memberi kebahagiaan ketika bertemu. Sedikit ataupun banyak, perasaan ingin membahagiakan dan merasa lebih bersyukur ini acapkali datang pada diri saya karena saya semakin banyak belajar untuk menghargai apa yang saya miliki, serta berjuang mencapai hal-hal yang belum saya miliki, dari segala peristiwa yang mewarnai hari-hari saya sejak saya bergabung sebagai civitas SMP Labschool Kebayoran di tahun 2007. Baik itu hal-hal yang terkait dengan kualitas pribadi saya, kualitas kerja saya, hubungan saya dengan diri saya sendiri dan hubungan saya dengan orang lain. Di tempat ini pula saya semakin banyak belajar tentang objektivitas, belajar tentang memaafkan, belajar mengakui kesalahan, belajar  mengakui kelebihan orang lain dan semakin yakin bahwa apa yang kita tanam maka itulah yang kita tuai, dan hebatnya...anak-anak sayalah yang mengajarkan semua itu.


Desember 2007
...
“OK, bisa perhatikan dulu ke depan, tugas yang saya berikan minggu lalu boleh dikumpulkan, ketua kelas mungkin bisa bantu saya mengumpulkan tugas tiap kelompok”
(semua asyik dengan aktivitasnya masing-masing)
 “nak, kamu sudah sudah mengerjakan?” saya bertanya pada satu anak ,dan dia menggeleng; “kamu?” tanya saya pada anak lainnya, jawabannya pun sama
(siswa yang lainnya tetap asyik dengan dengan aktivitasnya masing-masing)
Saya memutuskan bertanya satu kali lagi, “halo, sudah selesai belum kelas ini tugasnya?”
Banyak yang menjawab bersamaan “beluuum buu” , “yaaa males bu, banyak tugas lain yang lebih penting”, “udah bu...tapiiii dalam mimpi hahahaha”
(mereka tetap meringkuk di atas karpet, meniup suling, dan tidak mengacuhkan keberadaan saya)
...

Sungguh rasanya sangat sulit untuk bisa tersenyum saat itu, namun saya berusaha untuk tetap tersenyum karena saya berharap saya bisa mengontrol 1 kelas ini seperti halnya 4 kelas lain yang saat itu menjadi tanggung jawab saya. Saya berusaha bicara satu kali lagi, “saya kecewa karena kalian bersikap seperti ini, saya tidak tahu apakah kalian melakukan ini karena saya guru baru? Atau memang kalian mengalami kesulitan? tapi sepertinya untuk saat ini kalian tidak menginginkan saya untuk berada di kelas ini, dan saya tidak akan memaksa, jadi saya yang akan keluar dari sini”. Saat itu sangatlah membingungkan untuk menentukan sikap, karena saya tahu bahwa bukan pilihan yang tepat untuk meninggalkan kelas, namun ego saya saat itu, saya tidak mau tampak lemah dan tidak berdaya di hadapan mereka, dan saya memilih untuk keluar dari kelas itu karena saya tidak mau genangan air mata saya sampai mengalir di hadapan mereka.

Sempat gelisah karena memikirkan dengan siapa ya saya baiknya menceritakan masalah ini karena rasanya kok malu kalau dianggap tidak becus mengelola kelas, bahkan sempat berkecamuk di pikiran keinginan untuk berhenti saja mengajar disini karena di kelas ini saya sering merasa diabaikan, tapi keinginan ini redam dengan sendirinya ketika sudah mengajar di empat kelas lainnya, meskipun adakalanya perut mendadak mual kalau sudah jadwalnya masuk kelas ini lagi.


November 2008
...
Assalamualaikum Wr Wb
Ibu yoan, terima kasih atas segala bimbingan ibu yang telah ibu berikan untuk saya dan segala kebaikan ibu ke saya.
Bu yoan itu guru pualing sabaar bangeeett yang pernah saya kenal, bener bu ini serius, awalnya sih saya nggak kepikiran kalo ibu ternyata baik dan sabar banget, malahan menurut saya dulu ibu biasa aja, ngajar juga suka saya bandingin sama bu okta dan enakan bu okta pertamanya (hehe maaf ya bu) tapi lama-lama ibu enak juga kok.
Dulu waktu pertama ibu ngajar di labsky, saya pertama liat ibu dan diajar ibu di kelas 8, saya cuma berpikir “ah siapa sih nih guru, biasa aja ah pelajarannya, malah enakan guru yang sebelumnya ngajar kelas kita”. Tapi waktu saya ngeliat ibu bisa tetep senyum pas anak-anak di kelas saya berisik dan nggak peduliin ibu sama sekali, saya sempet bilang dalam hati “ya ampun ibunya sabar banget ya?”tapi saya masih biasa aja sih saat itu, saya juga belum terlalu kenal banget sama ibu.
Tapiiii saya baru bener bener kenal ibu pas saya jadi panitia Labs Fresh School Day. Ternyata ibu beneran sabar bangeeeett, serius bu, ibu bener-bener banyak ngebantu saya di acara itu. Kadang saya suka ngeliatin ibu terus mikir kalo dulu tuh saya sempet ngeremehin ibu, nganggep ibu nggak penting, tapi ternyata ibu hebat banget, saya nggak tau apa jadinya acara itu kalo nggak ada ibu yang selalu ngingetin saya untuk ngelakuin ini dan itu. Acara itu bener bener jadi acara yang berkesan buat saya, saya kagum sama ibu, ibu salah satu guru favorit saya. Apalagi itu acara yang bisa dibilang salah satu acara - acara terakhir di kepengurusan OSIS saya, jadi saya seneng banget karena acaranya berjalan lancar. Di Labspart juga ibu bantuin panitia OSIS banget dengan nasehat-nasehat ibu, kadang ibu galak dan marah, tapi itu karena memang kita sudah melakukan kesalahan.
Bu... tetep sabar ya sama saya, sama angkatan saya, tetep inget kita ya kalau nanti kita udah lulus, tetep jadi bu yoan yang sabar ya bu sampai kapanpun J

With love
( ibu tau nggak siapa saya? Ayooo tebak saya siapa? Saya...ehm
aaahh nggak usah ah, saya nggak usah kasi tau...rahasia aja. Biar ibu tebak aja. Sekali lagi makasi ya bu.  Happy Teacher’s Day buuu )

---

Air mata saya mengalir saat saya membaca surat di atas, itu salah satu surat yang saya dapat ketika peringatan hari Teacher’s Day yang dilakukan dengan melibatkan seluruh siswa untuk mengirimkan surat pada guru yang menjadi favorit mereka.

Awalnya hati saya sempat mencelos ketika mendengar akan ada kegiatan ini (kegiatan ini rahasia dan tidak ada guru yang tahu, namun karena penggagasnya adalah teman satu tim saya, maka saya pun dilibatkan, jadi hanya kami berdua dan pimpinan serta POMG dan anak- anak tentunya, yang tahu akan ada kegiatan ini). Saya sempat merasa agak melankolis untuk beberapa saat karena saya berpikir, ah paling saya tidak akan dapat surat dari siapa-siapa, rasanya belum ada siswa yang menyukai saya apalagi menjadikan saya sebagai guru favoritnya, tapi kan malu juga ya kalau tidak ada (entah kenapa perasaan ini muncul begitu saja). Tapi akhirnya saya mulai bisa mengontrol perasaan karena saya sudah bisa berpikir realistis, saya kan guru baru, jadi wajarlah kalau tidak dapat, bahkan mungkin juga ada teman lain yang sudah kerja lama dan juga tidak dapat surat dari anak-anak.

Ketika pembagian amplop saya jujur saja agak terkejut karena ternyata saya dapat juga amplop coklat itu, awalnya saya kira mungkin semua guru dapat sekalipun isinya kosong. Tapi ternyata saat saya intip, di dalam amplop coklat itu ternyata ada beberapa surat untuk saya, dan kutipan surat di atas adalah salah satunya, salah satu yang paling membekas di hati saya di antara surat lain dan berbagai peristiwa lain yang sempat menjadi bagian dari hari-hari saya dan meninggalkan jejak kakinya begitu dalam di hati saya.

November 2008, hampir satu tahun setelah saya pernah merasa diabaikan oleh anak-anak ini, tidak dipedulikan, merasa mungkin tidak akan bisa menjadi guru yang patut diteladani, namun anak – anak ini jugalah yang menyatukan kembali serpihan hati saya, satu anak telah membuka mata, pikiran, dan hati saya dengan mengajarkan saya untuk semakin banyak belajar tentang bagaimana belajar menilai orang lain secara objektif, belajar tentang memaafkan, belajar mengakui kesalahan, belajar  mengakui kelebihan orang lain meski sebelumnya pernah memandangnya sebelah mata, dan ini membuat saya semakin memaknai bahwa apa yang kita tanam maka itulah yang kita tuai. Ada satu siswi yang sempat saya duga dialah yang menuliskan surat tersebut, tapi saya tidak berhasil menemukan sinyal apapun baik dari dia maupun siswa lainnya yang menunjukkan kemungkinan ia adalah penulisnya, bertanya pun tidak enak ah rasanya.

Hati saya membuncah membaca kalimat demi kalimat dari semua anak yang memberikan suratnya untuk saya, hati saya terenyuh mengingat kejadian satu tahun lampau ketika mereka tidak peduli pada keberadaan saya. Saat itu pula saya menangis (lagi) karena saya bahagia bisa menjadi sosok yang berarti untuk orang lain meskipun sampai saat ini saya tidak pernah benar-benar mengetahui siapa ananda yang menuliskan rangkaian kalimat indah yang telah meneguhkan hati saya untuk tetap berada disini hingga saat ini, terima kasih banyak ya nak, suratmu dan teman-teman masih saya simpan dan saya berharap suatu waktu kamu pernah tahu bahwa kamu telah meninggalkan jejak kaki yang begitu dalam di hati saya.

(Kebayoran, November 2011) 



14.02.02

Merindukan itu indah
merangkai berbagai reka dan angan dalam kesendirian
berpikir dia sedang apa
berpikir dia ada dimana
berpikir apakah dia memikirkanmu jua (kauharap iya)
merindukan sebuah pertemuan
dan berharap akan mendapatkan sebuah kebersamaan

Memujanya dengan segala kelebihannya
tetap membutuhkannya dengan segala kekurangan
mengerti dia dan ingin membahagiakannya

Benarkah mencintai tidak harus memiliki?
benar atau tidak, pasti kau memilih untuk memilikinya
jika kau merindukannya
memujanya
membutuhkannya
dan mencintainya dengan tulus

Tapi mencintai tulus artinya kau ingin dia bahagia
kalau melepasnya akan memberi kebahagiaan untuk dia
kau harus mengerti itu!
meski kau menangis di sudut hatimu
itu lebih bersahaja

kau boleh terbang tinggi
kau boleh berlari kencang
kau boleh berteriak
bahkan diam
saat kau alami bahagia dengannya

tapi apakah kau rela
terjatuh saat terbang tinggi
tersandung saat berlari kencang
tercekat saat berteriak
dan runtuh dalam diam
karena tiba-tiba...
bahagia itu lenyap
karena kau tersadar
matahari di langit itu bersinar
bukan untuk menyinari (bunga) matahari di hatimu

Kau redup...
enggan merindukan
enggan merangkai angan
enggan berpikir tentang dia
enggan memujanya
enggan mencintai tulus
enggan mengerti
enggan membahagiakan
tapi...
ternyata engkau membutuhkannya
di sela upaya menghapus kenangan

Kau lupa...
semakin kau coba lupakan
semakin ia lekat dalam ingatan
jika kau yakin ia yang terbaik
jika kau yakin punya kesabaran
jika kau ingin menanti
lakukanlah tanpa pamrih
dan tanpa menutup pintu hatimu
andai ada cinta lain yang datang mengetuk

Karena jika kau terlalu kuat mengingatnya
atau terlalu kuat melupakannya
itu artinya kau menyakiti batin dan pikiranmu
belajarlah menerima keadaan
dan yakin bahwa apapun yang kau terima adalah segala yang terbaik

Matahari itu terus bersinar
meski bukan untuk (bunga) matahari di hatimu
tapi satu waktu ia tersentak
saat tersadar ada (bunga) matahari yang menengadah
setia menanti sinarnya
padahal ia tak pernah acuh

Penantianmu tidak sia-sia
matahari itu mulai peduli
dan kau sadar hatimu mulai menghangat
(dan mulai lagi)
Merindukan...
Merangkai angan...
Berpikir tentang dia...
Memujanya...
Mencintai tulus...
Mengerti...
Membahagiakan...

entah sampai kapan...



* Catatan jadul...tanpa judul...
  dulu ini dibuat "karena" seseorang....

  "karena" bukan "untuk"

Dear Husband,



I'm your wife since 4 years ago

Sometimes, suddenly i think i was supposed to be patient to wait someone who really love me came into my life to be my husband



Do I regret? Because i choosing you...choose to live with this man for the rest of my life?



From the bottom of my heart, i know that i love you...I really need you
But sometimes i can't feel your love
I don't know how much you love me
I need your word
I need your act
I need your love
I need you to be my friend
To be my love
To be my partner
To be my brother
I do really need you
but i don't know, do you needs me?

it's painful baby :'(

I miss your desired
I miss your loved
I miss you as first as i knew you
I miss your arms warm
I miss our pillow talk
I miss touching your skin
I miss you touch my head
I miss you fix my hair
I miss your eyes gaze lovingly, i can't remember the last time you gave it to me
I miss you :')



But anyway,

thank you for always stay beside me

i know you love me with your own way

i'm sorry because i just miss you to love me with my own way


Husband, thank you for loving me :*